>

Indahnya merajut sabar tuk meraih asa

Tuesday, July 19, 2005

Empek-Empek + Tekwan (Hhhmmm Yummy...)



Sore itu aku lagi asyik menikmati pemandangan ala euro dari sebuah situs tertentu. Lembar demi lembar windows aku buka sekaligus demi dapat menyaksikan bumi allah yg saat ini sepertinya masih mustahil bisa aku datangi. Rasanya tak habis-habisnya aku memuji keindahan-keindahannya sambil membatin kapan aku bisa melihatnya langsung. Hayalanku mengelana seolah-olah aku berada dalam pesona salju Paris dengan latar Eiffel plus tereak kenceng, “Eiffel, I’m in love….” Hayalan berganti dengan diriku berpose di depan Big Ben begitu layar windowsku menampilkan keindahan kota London. Begitulah seterusnya hayalan terus berubah seiring dengan belahan bumi yang tampil pada layar komputerku. Benar-benar hayalan tingkat tinggi. Ssstttt jangan bilang-bilang Paterpan yak, ntar dia minta royalty lagi. Tiba-tiba ketukan pada dinding kaca dibelakang punggungku mengusik seiring bel tanda pulang berdenging nyaring. Mbak Made tampak komat-kamit mengucapkan sesuatu. “Makan empek-empek, yuk”, begitu kira-kira yang kubaca dari gerakan bibirnya. Oke, balasku dengan anggukan kepala.

****

“Tumben...mbak ?” tanyaku begitu bergabung dengan Mbak Made dan Mbak Anita.
“Nemenin, Buyer. Kali-kali aja FOC, Vie”, bisiknya pelan. Saat itu Mbak Anita sedang assyik sama Mbak Erna.
“Belum tentu lagi...” bantahku cepat tapi tak urung hatiku berkata, yeeesssssssss. Hare gene nolak ditraktir....? Terlebih empek-empek yang merupakan makanan pavoritku.
“Kita coba tempat yang baru itu aja, ya ?”
“Kudu naik angkot dong…”
“Yoa”. Mbak Made langsung nyetop 32 yang pas lewat. Sementara Mbak Anita sibuk ber-sms ria. Sampe di tempat yang ditujupun dia masih tak bergeming dari hp-nya itu.
“Vie, dompet gua dong! “ Mbak yang satu ini memang penganut ‘anti tas fanatik’ jadi aling-aling kalo bepergian selalu menitipkan dompet dan hp-nya padaku. Baginya dua ‘benda keramat’ itu sudah memenuhi confidence-nya dalam bepergian.
“Gak usah…” tolak Mbak Anita sambil menyodorkan tiga lembar ribuan pada sopir angkot.

****



Spanduk besar menyambut kami. Empek-Empek Oki. Di spanduk itu juga tertera jenis-jenis makanan, ada empek-empek, tekwan, lenjer, kulit, adaan, bakmi dsb. Jadi pelanggan bisa langsung memilih makanan apa yang akan dipesan tanpa bersusah-susah dulu membaca daftar menu. Akhirnya kita kompakan empek-empek kapal selam yang dipilih.
“Coba tekwan-nya, yuk ?” tawar Mbak Anita tetap dengan hp ditangannya.
“Ntar gak habis lho, Mbak.” dalih Mbak Made.
“Kita pesan satu aja tapi makannya bareng.”
“Boleh juga tuh. Kalau 3 in 1 sih oke-oke aja.”
“Iya, sapi merem”, desisku pelan
Kedua mbak didepanku saling pandang bingung dan secara berbarengan, “Sapi merem ? Apaan tuh ?”
Ada perasaan lucu melihat tampang mereka. Seandainya satu mata mereka dikedipkan sambil meneriakkan kata terakhir, persis Jaja Maharja dalam acara kuis dangdut deh.
Satu piring maem rame-rame, Mbak…” jelasku..
“Uhhh….bisa aja lu, ya…!” koor mereka kompak sementara yang diledekin cuma nyenyir doang.
Akhirnya si ‘kapal selam’ muncul juga. Tanpa dikomando lagi semuanya sibuk pada piringnya masing-masing tak terkecuali Mbak Anita yang telah menyimpan hp-nya ke dalam tas.
Kedua mbak itu terlibat pembicaraan yang seru. Meskipun nyata-nyata diluar lingkungan kantor tetep aja topiknya gak jauh-jauh dari kerjaan juga. Sedangkan aku lebih konsen sama empek-empek yang ada dihadapanku. Sekali-kali aku ikut nimbrung dengan anggukan kepala plus komentar-komentar kecil. “Bener, Mbak ? Masak sih ? Oh, gitu ya?”. Basi banget gak sih. Hihihi....



Gak aneh piringku yang pertama kali ludes menyisa sedikit kuah cukanya. Disusul Mbak Made dan cuma Mbak Anita yang menyisakan beberapa potongan empek-empek
“Vie, tuh tekwannya dimakan!” tawar Mbak Anita. “Aku sih udah nyerah.”
“Ya, Vie, bantuan gua dong. Lu tau kan gua gak bisa makan banyak sekaligus” tambah Mbak Made. Alasannya yang sudah kuhapal diluar kepala.
Tau laper apa doyan lagi-lagi sendok ditanganku menjangkau tekwan yang sangat menggoda itu. Dan kali inipun lagi-lagi aku juga yang menghabiskannya setelah Mbak Made nyerah.
Beriringan dengan azan magrib suapan terakhir dimulutkupun ludes dengan sempurna. Untung lagi gak sholat jadi gak perlu tergesa-gesa nyari mesjid.
Ternyata tebakan Mbak Made bener, kali inipun Mbak Anita yang menjadi donatur untuk hidangan barusan. Ah, ternyata makanan yang gratis itu jauh lebih enak ya ? Hihihi...Dan kitapun akhirnya misah, aku naik angkot 35, Mbak Made naik angkot 35 juga dengan arah yang berbeda 180 derajat dariku sedangkan Mbak Anita cukup berjalan kaki doang karena rumahnya masih tetanggaan dengan Empek-Empek Oki.


Catatan, 8 Juni 2005
* Buat Mbak Anita tks bgt nyak ? N ditunggu traktiran berikutnya

2 Comments:

  • At 3:13 AM, Blogger Wita said…

    yaaah...........curang, masa aku nggak diajak.

    awas ya....nggak diajak ke lembang loh :-P

     
  • At 8:42 PM, Blogger Bu_nga said…

    itu juga acaranya dadakan, lagian waktu itu kita gak brani ngangguin elu yg konsen abis di depan komputer.
    yaa...jangan dihubung2i dengan lembang dunk! itu planning jangka pendek lagi. ^_^

     

Post a Comment

<< Home

 

Makasih Udah Mampir.....N Ditunggu Kunjungan Berikutnya Ya.....!