>

Indahnya merajut sabar tuk meraih asa

Monday, August 22, 2005

Lembur feat Pizza Hut

Semuanya persis seperti bayanganku kemaren. Jam 9 pagi aku udah di kantor dan ini membuktikan bahwa aku yang paling wahid hadir pada sabtu pagi ini. Sejumlah pertanyaan yang sama banyak dilontarkan teman2 yang berpapasan denganku. Kok masuk sih ? Dan semuanyapun kujawab dengan jawaban yang sama pula bahwa pekerjaanku lumayan bejibun.

Beda dengan aku yang sorangan wae, di lapangan produksi sewing penuh yang lembur. Kalau selama senin sampe jum’at mereka tampil kembar dengan seragam warna orange pucat, hari ini suasana produksi lebih semarak dengan aneka model baju dan aneka warna.

Seperti layaknya pejuang yang siap tempur, begitupun yang terjadi padaku. Setumpuk file memenuhi meja kerja. Targetku minimal 2 style kudu siap aku hitung costingnya. Dari mulai buku receive fabric, buku pembelian, cutting order, sampe buku shipment pun ada. Yang pasti beberapa file dari order yang akan ku-costing menduduki tumpukan teratas.

Untuk sementara diruangan cuma aku sendiri jadi rasanya aku punya hak penuh akan jenis lagu yang aku pilih. Tembang lawas dari Lea Solanga seolah yel2 penyemangat kerja. Berkolaborasi dengan Brade Kane, We Could Be In Love mengalun merdu.

****
Jam 10 lewat Mbak Made akhirnya datang. Mbak satu ini tampil sporti dengan kaos biru dan celana putih polos ¾ dengan dua stripe disisi kanan dan kirinya. Jika ditambah sepatu skets dan handuk Good Morning, pas banget dah buat SKJ (* sambil menggerakkan kedua tangan kekiri dan kekanan….satu….dua…tiga…empat…*) ^_^

Si bungsu Fresti baru tiba kurang dari 1 ½ jam tengah hari. Tanpa dosa dia melenggang kangkung memasuki ruangan. Sementara dari jauh kita udah melolotin tangannya dengan penuh pengharapan akan bungkusan yang dinanti-nantikan. Aku dan Mbak Made baru bernafas lega begitu Fresti memastikan bahwa “bungkusan” yang dinantikan sudah aman di mess.
Cewek satu ini dalam berbusana memang penganut paham minimalis, minim bahannya minim pula potongannya. Hihihi…. Kali ini dia tampil dengan kaos polos putih ketat dengan potongan dada rendah bentuk V. Begitupun bagian punggungnya juga berbentuk sama jadi baik bagian depan maupun punggungnya by pass deh diliatin siapa saja memamerkan kulitnya yang putih.

Terakhir “tukang” email kita yang datang setelah by sms aku kabari bahwa lunch siang ini udah siap untuk disantap. Atie juga tampil nyantai dengan kaos warna biru dongker pekat. Ditambah kerudung biru dan jeans biru pula membuktikan bahwa betapa kagumnya dia dengan warna itu. Gak aneh judul MP-nya pun berbunyi Biru Langit. Dibalut dengan blouse stripe pink-hijau-ivory plus celana jeans dan kerudung yang maching dengan selop putih, berarti aku satu-satunya yang tampil agak formal.
Beda dengan Fresti yang tampil anggun dengan sepatu pink berhak 3 cm, Atie malah cuma bersandal jepit ria. :)))) Ah, Teteh….

Gak sampe setengah jam begitu Atie menggabungkan diri kita langsung menyantap Pizza Hut. Dua pan Super Supreme stuffed crushed bener-bener menggoda. Satu pan ukuran middle khusus buat Pak Raju sebagai donator utamanya. Satu pan lagi ukuran jumbo kita lahap sampe tuntas. Masing-masing kita dapat 2 potongan kecuali Fresti jatahnya satu lagi diembat sama Iim yang kebetulan nongol selagi kita makan. Bener-bener puas deh walaupun aku tuh kurang suka yang pake stuffed crushed tapi buat nolak…lebih gak suka lagi…….. ^_^

Lemburan kali ini lebih special. Meskipun kami kecuali Atie tidak dapat uang lembur tapi dengan 2 potong pizza sepertinya itu sudah lebih dari cukup. Lemburan hari ini berakhir setelah jam setengah satu siang aku dan Mbak Made meninggalkan SKI tercinta.

Monday, August 08, 2005

Jika Sang Kakak Enggan Dipanggil Uni

Hari pendaftaran ulang akhirnya tiba. Sang kakak, Tamara, tampak bahagia sekali. Hal itu terekam jelas pada raut wajahnya. Dibenaknya sudah terbayang bahwa sebentar lagi dia akan berkumpul dengan teman-teman sekolah setelah liburan panjang. Begitupun sang adik, Yudhis gak kalah sumbrinyahnya. Hanya dalam hitungan hari dia akan memasuki dunia lain yaitu dunia sekolah yang sudah 2 tahun ini digeluti oleh kakaknya. Kedua-duanya kompak mematut-matut diri di depan kaca raksasa penghias ruang tamu. Tamara bergaya dengan tas warna pink dipundak. Sementara Yudhis juga ikut-ikutan bercentil-centil ria, Doraemon dipunggungnya seakan ikutan tersenyum.

Suster Ima dan mbak Nur gak kalah sibuknya mengikuti kedua bocah itu. Dengan handuk dipundaknya suster Ima sibuk menyuapi susu yang langsung disambut dengan mulut mungil Yudhis. Sementara mbak Nur sibuk mendandani Tamara yang gak mau diam mengikuti gaya Spongbob berlompat-lompat. Akibatnya bukan hanya wajah Tama aja yg penuh bedak begitupun baju mbak Nur ikut-ikutan dibedaki. Dasar bocah malah ngikik geli melihat baju mbaknya itu. Keriuhan pagi itu segera sirna begitu keduanya tenggelam dalam Avanza silver yang membawa mereka ke sekolah yang dituju.

***
Tamara segera bergabung dengan teman-temannya begitu sampai disekolah sementara sang adik cukup puas mengekori ibunya. Suasana asing disekelilingnya membuat Yudhis tidak mau berjauh-jauhan dengan ibu. Tangan mungilnya mengenggam erat tangan ibunya seolah takut lepas. Sekali-kali dari jauh dia mengaksikan keceriaan Tamara.
“Ayo, Yudhis, panggil Uni !” perintah ibu begitu pendaftaraan selesai.
“Ajak Uni pulang” tambah ibu sambil menunjuk putri sulungnya itu.
“ Uniiiiii….Uniiii…!” teriak Yudhis kenceng.
Bukannya menoleh, Tamara yang hanya berjarak tujuh meter itu tidak bergeming sama sekali. Dia masih assyik bercengkrama seolah tidak mendengar apa-apa.
“Uniiiiii....Uniiii.....! Kata Ibu kita pulangggg....”
Kali ini wajah Tamara beralih pada sumber suara panggilan. Dengan wajah ditekuk menahan marah dihampirinya Yudhis.
“Dibilangin jangan panggil Uni!!! Malu tau!” serang Tamara pada sang adik. Seketika itu juga sang adik langsung bersembunyi dibalik punggung ibunya.
“Eh, Tama....apa-apaan sih kamu ?” tanya ibu penuh heran. Tidak biasanya Tamara bersikap seperti itu.
“Dedeknya nakal Ibu...” desisnya pelan. Sisa kemarahan masih tergambar jelas pada sepasang matanya. Acap kali mata itu mendelik sempurna ketika sang adik mengintip dari balik punggung ibu.
“Memangnya dedek salah apa ?” tanya ibu dengan sabar.
“Aku gak mau dipanggil Uni.”
“Lho, itu kan memang panggilan dedek ke kamu, sayang”.
“ Tapi kalau disekolah aku gak mau dipanggil Uni, Ibuuuuu…”
“Memangnya kenapa?”
“Teman-temanku tidak ada yang dipanggil Uni” kali ini mendung diwajah Tamara semakin kentara.
Sejenak si ibu tidak tau harus bagaimana menghadapi buah hatinya itu. Kalau menurut kata hati rasanya ia ingin tertawa mendengar alasan polos itu namun demi melihat wajah si sulung yang semakin muram hal itu urung dilakukannya.
“Jadi kamu mau dipanggil apa, cantik?” bujuk ibu sambil membelai rambut panjang Tamara dengan sayang. Sedetik mendung itu sempat sirna dari wajahnya.
“Tamara” si rambut ikal itu menjawab cepat.
“Sayang....kan Ibu sudah pernah bilang kalau anak yang lebih kecil tidak boleh hanya panggil nama kepada yang lebih besar. Ingat, gak?”
“Panggil Kakak aja deh”
“Hhhmmm...Uni itu kan sama dengan Kakak”
“Iya, Ibuuu....tapi kan teman-teman sekolahku tidak ada yang dipanggil Uni” kesekian kalinya Tamara mengungkapkan alasan yang sama.
Semuanya jelas sekarang bagi sang ibu. Betapa besar arti sebuah panggilan terhadap seseorang. Dia tidak pernah mengira bahwa putri semata wayang-nya yang baru duduk di TK B itu sudah menganggapnya bukanlah hal yang sepele. Hanya sebuah panggilan seseorang sudah merasakan dirinya berbeda dengan komunitasnya. Seandainya panggilan itu berupa Teteh, pastinya protes tersebut tidak pernah ada. Karena untuk wilayah Bogor panggilan itu tidak asing di telinganya. Atau jika Tamara dan Yudhis bersekolah di Padang dan sekitarnya tentu pula dia tidak akan mempersoalkannya bahkan cenderung dia akan bangga dengan panggilan Uni.

Ketika sang ibu menceritakan hal itu kepadaku esok harinya, serta merta aku ketawa ngakak, hal yang tidak bisa dilakukan sang ibu pada saat itu. Sungguh ini ilmu berharga bagiku jika aku menjadi seorang ibu kelak. Insya Allah….!

Thursday, August 04, 2005

Saat Diri Terkalahkan Dengan MAAG


Tiada yang lebih menyenangkan di akhir minggu jika diisi dengan bersenang-senang. Setelah 5 hari berturut-turut berkutat dengan setumpuk pekerjaan yang serba rutinitas, serba dikejar deadline malah kadang-kadang serba omelan2. Rasanya libur 2 hari diakhir pekan benar-benar bebas dari segalanya. Seperti minggu-minggu kemaren, hari inipun aku udah menyusun sebuah rencana pergi. PGB tujuan utamanya dan biasanya tujuan-tujuan berikutnya suka muncul secara dadakan.

Pagi ini aku bangun sudah merasakan gelagat yg kurang enak terutama di bagian seputar perut. Rasa sakit makin terasa ba’da subuh. Ah…jangan-jangan…dibenakku sudah terbayang penyakit yg sangat aku hindari. MAAG. Penyakit ini bukan hal yang baru bagiku karena itu aku berusaha sekuat mungkin menerapkan pola hidup sehat sehari-hari. Terutama jadwal makan aku selalu tepat waktu. Cuma menghindar makanan pedas sampe sekarang tidak bisa kutolerir. Hal yg paling sulit dihindari. Sambel kedudukannya hampir sama dengan nasi jadi kudu ada di menu makan baik sarapan, makan siang maupun dinner. Sepertinya kalau belum pedes... itu artinya belum makan deh.

Untuk kesekian kalinya perut melilit dengan sempurna. Badan kutekuk sedemikian rupa menahan sakit. Itu belum cukup kadang-kadang rasa mual ikut-ikutan nimbrung lagi. Kalau sudah begini gak abis-abisnya aku membatin untuk kapok makan yang serba pedas. Semuanya serba salah mungkin posisi yang paling nyaman adalah berbaring.

Merasa gak kuat juga terpaksa aku hisab promag setelah sarapan. Memang gak masimal sih tapi paling tidak rada lumayan buat sesaat. Seperti udah kebiasaan kalau kumat sih pasti larinya ke teh manis panas. Dalam satu hari bisa bergelas-gelas tuh. Bisa dipastikan minum teh manis panas sudah menjadi menu utama kalo penyakit maag lagi meradang.

Sesekali gelas yang panas itu aku lekatkan pada bagian perut yg sakit. Percaya apa gak ini salah satu terapi turun temurun di keluarga kami. Baik nenek maupun ibuku dulu sering menerapkannya. Biasanya air panas dituangkan pada botol lalu dengan dilapisi handuk kecil botol yang panas itu ditempelkan pada bagian perut yang sakit. Tau sugesti apa gak kenyataannya efeknya lumayan untuk mengurangi rasa sakit bahkan rasa sakitnya hilang sama sekali. Untuk praktisnya aku lebih memilih menempelkan gelas dari teh manis seraya aku meminum isinya sesendok demi sesendok.

***


Biasanya jika dihari libur jam sebelas siang cacing-cacing di perutku sudah bejingkrakan minta diisi tapi hari ini sampai jam setengah tiga aku belum lapar sama sekali. Sama seperti penyakit pada umumnya selera makan sangat berpengaruh terlebih peyakit maag yang notabene erat berhubungan dengan “memamah biak”. Rasanya semua makanan yang dihidangkan pasti akan ditolak deh. Benarkah ????? Mungkin juga efek dari teh manis yang sudah kuminum bergelas-gelas. Kandungan gula didalamnya konon lumayan mengenyangkan. Alhasil mesti gak lapar, sepertiga centong nasi ditambah satu potong tahu goreng menjadi santapan siang ini. Untuk kali ini memang steril dari pedas sama sekali.

Alhamdulillah menjelang malam sakit di perutku berangsur sembuh. Untuk kesekian kalinya aku merasakan manfaat dari terapi turun-temurunku itu. Cuma 2 butir promag yang kuhisap dan itu lebih dari cukup.
Beda seperti siang hari, malam ini aku mulai menikmati makan malamku. Dan kali ini pun lagi-lagi janji yg kuikrarkan tadi siang untuk tidak makan pedas sudah kulanggar lagi. Meskipun sedikit namun sambel sudah terdaftar lagi dalam menu wajib. Tak urung perasaan was-was timbul juga namun kelezatan sambel sudah mengalahi segalanya. Mungkin benar kata orang kalau janji itu dibuat untuk dilanggar. ^_^

Monday, July 25, 2005

Oleh-oleh dari Pesta Buku Jakarta



Brilliance!!! Sepertinya itulah istilah yang paling pantas setelah aku meng-khatam kan buku ini. Lembaran pertama aja aku sudah merasakan auranya untuk beralih pada lebar demi lebar berikutnya. Hingga gak terasa 632 halaman itu aku babat abis. Rasanya gak ada bagian dari buku itu yang luput dari perhatianku.
Dan Brown ciamik abis mendiskripsikan situasi sehingga diawal cerita aku seakan berada di Museum Louvre tepat di depan lukisan Monalisa yg menjadi garis start misteri ini dimulai.
The Davinci Code mengantarkan pembacanya terlibat pada teka-teki yang kerap terjadi. Uniknya kepiawaian Kang Dan Brown ini sering membuat kita terkecoh akan result dari teka-teki itu. Dan beliau meramu sedemikian rupa sehingga kita tak hanya cukup menebak teka-teki yang ada bahkan kita kudu dihadapkan pada teka-teki didalam teka-teki.

Secara garis besar buku ini bernuansa Kristen karenanya gak aneh didalamnya membahas seputar polemik agama Nabi Isa itu. Sebuah kejar mengejar yang menegangkan melintasi katedral-katedral dan kastil-kastil eropa. Meskipun begitu pengarang sama sekali tidak ada maksud persuasif dalam peng-kristenisasikan agama tertentu, setidaknya begitu yang dapat aku simpulkan. Bahkan pengarangnya dengan lugas menjabarkan adanya konflik di dalam agama Kristen itu sendiri. Bahwa ternyata didalam agama Kristen terdapat sebuah komunitas tertentu yang ‘agak’ berbeda dengan kristen pada umumnya. Opus Dei , itu nama kelompok tersebut. Sebuah sekte katolik yang amat taat, yg telah menjadi bahan kontroversi baru-baru ini berkenaan dengan adanya berbagai laporan mengenai kegiatan cuci otak, pemaksaan & sebuah praktik berbahaya yg dikenal sebagai corporal mortification, “penistaan jasmani’

Atie temanku pernah berkata, “Untung aja agama kita gak ada yang begitu ya, Vie “
Benarkah ??? Lalu bagaimana dengan hadirnya kelompok-kelompok yang mengatasnamakan islam tapi nyata-nyata keberadaannya menyimpang dari syariat islam yang sebenarnya ? Wallalualam !

Salah satu ‘sesion kecil’ tertentu seakan mengantarku pada masa masih pake seragam putih abu-abu saat rangkaian Fibonacci menguak tabir salah satu teka-tekinya. Belum lagi PHI asli ilmu baru bagiku yang ternyata umurnya jauh lebih tua dari umurku sendiri. Siapa yang mengira teori PHI ini diperoleh Leonardo Davinci dari mayat yang dibongkar dari dalam kubur. Subhanallah…ternyata ilmu itu bisa datang dari hal-hal yang tidak terduga sekalipun dan Leonardo Davinci sudah membuktikan salah satunya. Iseng aku en Atie membuktikan teori itu dengan mengukur jarak dari bahu ke ujung jari kemudian bagi dgn jarak dari siku ke ujung jari hasilnya mendekati angka PHI 1.1618. Belum puas kami mencoba mengukur perbandingan jarak punggung telapak tangan kemudian dibagi dengan panjang jari tengah dan hasilnya…nyaris angka PHI juga. Mbak Made yang kita todong sebagai dummy-nya cuma bengong aja begitu kami kegirangan setelah berhasil membuktikan teori ini.

Beda dengan buku-buku import lainnya yang acap mengumbar sensualitas didalamnya, buku ini nyaris bersih dari hal itu. Aplaus hormat sekali lagi buat Aa’ Dan Brown…. ^_^

Tidak seperti buku-buku biasanya dimana endingnya menghasilkan penyelesaian yang maksimal, buku ini masih menyisakan teka-teki yang masih menjadi misteri sekalipun sebagian besar dari misteri ini nyaris terungkap. Disisi lain pembaca lumayan terhibur dengan ending yang membahagiakan dimana berkumpulnya sebuah keluarga yang tidak pernah mengenal satu sama lain dan berjumpa selama puluhan tahun.

Cawan suci (Holy Grail) tetap menjadi fenomena yang masih merupakan sebuah tanda tanya yang berumur ribuan tahun dan ternyata seorang Dan Brown tidak kuasa mengungkapnya. Persis seperti garis start nya ternyata garis finis nya pun berada di Museum Louvre.

***


Dan Brown sendiri belum terlalu lama kukenal. Sore itu My Bos (baca: Mr.Raju) sedang mendiskusikannya dengan Fresti. Aku yang gak tau apa-apa sok serius di depan computer padahal diam-diam aku menyimak pembicaraan mereka. Gak dinyana tiba-tiba Atik ikutan nimbrung dalam pembicaraan itu jadi otomatis cuma aku sendiri yang gak tau about him.
“ Siapa sih Dan Brown itu ? Emang bagus banget ya The Davinci Code?” akhirnya pertanyaan itupun meledak juga.
“ Hare geneeee gak tau Dan Brown ? Please deh…. “ ledek Fresti kearahku. Kepalanya digerak-gerakkan sedemikian rupa mengikuti omongannya.
“ Bukan bagus-bagus lagi, Mbakkkk… Best Seller gitu lohhh…”
Penasaranku sepertinya udah keubun-ubun rasanya pengen segera cepat-cepat terbang ke Gramedia.
“ Ntar aja belinya, Vie. Gak lama lagi kan ada pameran buku. Lumayan tau discount nya”

***

Akhirnya Pesta Buku Jakarta menjadi saksi saat aku membeli buku ini. Dengan discount 20% aku bisa hemat dua puluh satu ribu sembilan ratus perak. Kenyataannya ini buku termahal yang pernah aku beli namun rasanya terbayar dengan ceritanya yang sangat mewakili title Best Seller yang tercantum dibukunya. Alhasil kompensasinya aku cukup berpuas diri gak beli pulsa bulan ini. Hehehe..:)))))

* Buat Pak Raju, Fresti n Atie, thank all atas inspirasinya utk membeli buku ini
* Buat Mbak Made makasih banget udah "rela" jadi dummy utk pembuktian teori PHI

Tuesday, July 19, 2005

Empek-Empek + Tekwan (Hhhmmm Yummy...)



Sore itu aku lagi asyik menikmati pemandangan ala euro dari sebuah situs tertentu. Lembar demi lembar windows aku buka sekaligus demi dapat menyaksikan bumi allah yg saat ini sepertinya masih mustahil bisa aku datangi. Rasanya tak habis-habisnya aku memuji keindahan-keindahannya sambil membatin kapan aku bisa melihatnya langsung. Hayalanku mengelana seolah-olah aku berada dalam pesona salju Paris dengan latar Eiffel plus tereak kenceng, “Eiffel, I’m in love….” Hayalan berganti dengan diriku berpose di depan Big Ben begitu layar windowsku menampilkan keindahan kota London. Begitulah seterusnya hayalan terus berubah seiring dengan belahan bumi yang tampil pada layar komputerku. Benar-benar hayalan tingkat tinggi. Ssstttt jangan bilang-bilang Paterpan yak, ntar dia minta royalty lagi. Tiba-tiba ketukan pada dinding kaca dibelakang punggungku mengusik seiring bel tanda pulang berdenging nyaring. Mbak Made tampak komat-kamit mengucapkan sesuatu. “Makan empek-empek, yuk”, begitu kira-kira yang kubaca dari gerakan bibirnya. Oke, balasku dengan anggukan kepala.

****

“Tumben...mbak ?” tanyaku begitu bergabung dengan Mbak Made dan Mbak Anita.
“Nemenin, Buyer. Kali-kali aja FOC, Vie”, bisiknya pelan. Saat itu Mbak Anita sedang assyik sama Mbak Erna.
“Belum tentu lagi...” bantahku cepat tapi tak urung hatiku berkata, yeeesssssssss. Hare gene nolak ditraktir....? Terlebih empek-empek yang merupakan makanan pavoritku.
“Kita coba tempat yang baru itu aja, ya ?”
“Kudu naik angkot dong…”
“Yoa”. Mbak Made langsung nyetop 32 yang pas lewat. Sementara Mbak Anita sibuk ber-sms ria. Sampe di tempat yang ditujupun dia masih tak bergeming dari hp-nya itu.
“Vie, dompet gua dong! “ Mbak yang satu ini memang penganut ‘anti tas fanatik’ jadi aling-aling kalo bepergian selalu menitipkan dompet dan hp-nya padaku. Baginya dua ‘benda keramat’ itu sudah memenuhi confidence-nya dalam bepergian.
“Gak usah…” tolak Mbak Anita sambil menyodorkan tiga lembar ribuan pada sopir angkot.

****



Spanduk besar menyambut kami. Empek-Empek Oki. Di spanduk itu juga tertera jenis-jenis makanan, ada empek-empek, tekwan, lenjer, kulit, adaan, bakmi dsb. Jadi pelanggan bisa langsung memilih makanan apa yang akan dipesan tanpa bersusah-susah dulu membaca daftar menu. Akhirnya kita kompakan empek-empek kapal selam yang dipilih.
“Coba tekwan-nya, yuk ?” tawar Mbak Anita tetap dengan hp ditangannya.
“Ntar gak habis lho, Mbak.” dalih Mbak Made.
“Kita pesan satu aja tapi makannya bareng.”
“Boleh juga tuh. Kalau 3 in 1 sih oke-oke aja.”
“Iya, sapi merem”, desisku pelan
Kedua mbak didepanku saling pandang bingung dan secara berbarengan, “Sapi merem ? Apaan tuh ?”
Ada perasaan lucu melihat tampang mereka. Seandainya satu mata mereka dikedipkan sambil meneriakkan kata terakhir, persis Jaja Maharja dalam acara kuis dangdut deh.
Satu piring maem rame-rame, Mbak…” jelasku..
“Uhhh….bisa aja lu, ya…!” koor mereka kompak sementara yang diledekin cuma nyenyir doang.
Akhirnya si ‘kapal selam’ muncul juga. Tanpa dikomando lagi semuanya sibuk pada piringnya masing-masing tak terkecuali Mbak Anita yang telah menyimpan hp-nya ke dalam tas.
Kedua mbak itu terlibat pembicaraan yang seru. Meskipun nyata-nyata diluar lingkungan kantor tetep aja topiknya gak jauh-jauh dari kerjaan juga. Sedangkan aku lebih konsen sama empek-empek yang ada dihadapanku. Sekali-kali aku ikut nimbrung dengan anggukan kepala plus komentar-komentar kecil. “Bener, Mbak ? Masak sih ? Oh, gitu ya?”. Basi banget gak sih. Hihihi....



Gak aneh piringku yang pertama kali ludes menyisa sedikit kuah cukanya. Disusul Mbak Made dan cuma Mbak Anita yang menyisakan beberapa potongan empek-empek
“Vie, tuh tekwannya dimakan!” tawar Mbak Anita. “Aku sih udah nyerah.”
“Ya, Vie, bantuan gua dong. Lu tau kan gua gak bisa makan banyak sekaligus” tambah Mbak Made. Alasannya yang sudah kuhapal diluar kepala.
Tau laper apa doyan lagi-lagi sendok ditanganku menjangkau tekwan yang sangat menggoda itu. Dan kali inipun lagi-lagi aku juga yang menghabiskannya setelah Mbak Made nyerah.
Beriringan dengan azan magrib suapan terakhir dimulutkupun ludes dengan sempurna. Untung lagi gak sholat jadi gak perlu tergesa-gesa nyari mesjid.
Ternyata tebakan Mbak Made bener, kali inipun Mbak Anita yang menjadi donatur untuk hidangan barusan. Ah, ternyata makanan yang gratis itu jauh lebih enak ya ? Hihihi...Dan kitapun akhirnya misah, aku naik angkot 35, Mbak Made naik angkot 35 juga dengan arah yang berbeda 180 derajat dariku sedangkan Mbak Anita cukup berjalan kaki doang karena rumahnya masih tetanggaan dengan Empek-Empek Oki.


Catatan, 8 Juni 2005
* Buat Mbak Anita tks bgt nyak ? N ditunggu traktiran berikutnya

Thursday, July 07, 2005

Suatu Hari di Istiqlal



Alarm berdering tepat di kepala Evie. Sejenak dia tersentak dari tidurnya. Detik berikutnya tangannya menjangkau hp dan mematikan alarm. Seperti kemaren dan kemarennya lagi dia pun terlelap kembali. Persis sepuluh menit kemudian alarm berdering lagi seiring azan subuh yg sedang berkumandang. Setengah enggan dia berusaha bangkit duduk mengusir kantuk yg masih bergelayut manja di kelopak mata. Kembali tangannya meraih hp dan mematikan alarm yg makin lama makin kenceng deringannya. Benda segi empat itu juga diaktifkannya setelah ikut2an bobok sama pemiliknya. Hanya dalam beberapa detik dia kembali dikejutkan dgn hp yg teriak2 menandakan adanya sms yg masuk. Pasti Kartini tebak Evie dalam hati. Dari kemaren temannya yg satu ini sulit banget dihubungi. Ah, ternyata dari Atie.” Uni Evie, daku nggak ikut ke Istiqlal. Sabtu ini daku lagi dikampung halaman. Salam buat Aa Gym, ya!”. Daku ? Uh, dasar pujangga, dalam sms aja nuansa puisinya masih kerasa. Hihihi…. Sebuah tanya menerpanya, ingin dia membalas sms Atie tapi meskipun stok pulsanya masih sebelas ribu perak tapi masa pakainya udah abis jadi kudu diisi lagi. Sementara jatah beli pulsa untuk bulan ini sudah dialihkan untuk beli beberapa buku dan kerudung. Suara azan masih terdengar syahdu, serta merta dia bangkit dari tempat tidur. Sejuknya air wudhu mengilangkan sisa kantuk sehingga nyaris tak tersisa. Seiring berwudhu bayangan wajah kedua orang tuanya yg telah tiada menyapanya. Ah, ayah dan ibuku pasti sedang menanti doa anaknya ini, desis hatinya haru. Subuh pagi ini pun dimulai dengan “Allahu Akbar….”

*****
Jam sudah menunjukkan pukul 7 pagi Evie baru selesai mandi. Masih sisa setengah jam lagi buat dandan, batinnya. Tas merahnya sudah terisi penuh dari perlengkapan sholat, al qur’an kecil, payung, bedak, lipstick dan dompet tentunya. Tinggal aqua dan cemilan yg belum nih. Untungnya dia kemarin udah wanti2 ke si ibu yg suka ngider menjajakan kue agar disiapin risoles enam biji. Sedangkan aqua… ah itu gampang di cari. Ingatannya kembali pada 3 bulan yg lalu. Saat itu dia sama sekali gak membekali diri apa2 akibatnya sepanjang tausiyah selama dua jam dia cuma bisa menenggak aqua doang. Kali ini dia gak mau mengulangi kesalahan yg sama. Sampe-sampe reminder hp juga dia set kata kue agar gak kelupaan.
“Nurrrrrr, kuenya udah diantar blom ?” teriaknya seraya menuruni tangga.
“ Baru aja nih “ tangannya mengangsurkan bungkusan dan memasukkannya ke dalam tas merah yg udah nangkring di pundak Evie.
Tidak seperti subuh tadi mendung, pagi ini lumayan cerah. Apalagi dengan berkerudung hitam membuat Evie agak gerah. Tapi itu tidak sedikitpun menurunkan semangatnya untuk pergi ke Istiqlal. Bayangan akan bis ber-AC yg akan mengantarkannya ke Senen seakan menepis gerah yg saat ini dirasakan. Saatnya untuk berangkat, semangatnya. Sudah ada kepastian dari Kartini bahwa mereka akan bertemu di Istiqlal. Untuk terakhir kalinya dia mengecek semua perbengkalan yg dibutuhkan. Perjalanan ke Istiqlal pun dimulai dengan “Bismillah...”

****

Perjalanan pagi itu terasa lambat. Dinginnya AC tak mampu mengusir gerah bagi penumpang. Dalam hati Evie mengeluh atas sarana transportasi itu yg udah gak layak lagi memakai embel2 AC. Rasanya ongkos lima ribu perak tidak sesuai dgn pelayanan yg diharapkannya. Astagfirullah, cepat dia beristigfar menyadari kekeliruannya. Cuaca panas memang kerap membuat adrenalin seseorang bisa naik beberapa tingkat. Untungnya dia agak terhibur dgn para pengamen2 yg melantunkan salah satu lagu kegemarannya. Jujur terdengar indah walaupun dikemas dgn seperangkat instrument yg sederhana, gitar tua yg penuh dgn stiker, biola usang yg penuh guratan2 serta gallon aqua ukuran jumbo yg berubah fungsi menjadi gendang. Satu orang yg berperan sebagai penyanyi membawakan lagu dgn irama yg pas dan enak didengar tak kalah dari penyanyi aslinya, Radja.
Tak dinyana udara yg tadinya panas berganti mendung bahkan setibanya di Senen hujan rintik menyambutnya. Segera dia mencegat bajaj dan berlindung didalamnya setelah menyepakati ongkos menuju istiqlal. Akhirnya perjalanan pagi ini berakhir setibanya di istiqlal. “Alhamdulillah…”

****
Setelah menitipkan sandal dan melipat rapi payungnya kembali dia segera bergegas menuju toilet. Barisan toilet teratur rapi dan begitu bersih. Marmer putih pada dinding toilet kelihatan bersinar begitupun dengan pintu yg terbuat dari stainless. Air keranpun mengalir dgn lancar, tak ada sampah yg bertebaran di toilet maupun dilingkungan sekitarnya.. Kiranya kesadaran orang2 untuk menjaga kebersihan di rumah allah ini sungguh terjaga. Pastinya ini tak lepas dari campur tangan petugas2 mesjid yg berseliweran disepanjang lorong barisan toilet. Disana juga tersedia beberapa kotak amal bagi siapa saja setelah mereka membuang hajatnya. Sebagian orang ada memberikan infaknya pada kotak2 amal tersebut sebagian lagi memberinya langsung pada petugas yg kelihatan mencolok dengan seragam biru tuanya. Pastinya tidak ada orang yg berkeinginan menjadi petugas toilet. Hanya permainan nasib yg membawa mereka untuk menjalaninya. Dimana sepanjang hari harus berkutat dengan tempat hajat orang banyak yg notabene pastinya menjijikkan. Tapi dibalik ‘menjijikan’ itu tersimpan misi yg sangat mulia demi terciptanya sebuah kebersihan, hal yg sederhana tapi bermakna luar biasa. Terlebih sebagai tempat ibadah kebersihan sangat berperan penting, moment disaat kita mengadap Sang Khalik harus dalam keadaan bersih secara lahirah dan batiniah. Islam juga sangat mencintai kebersihan sebagaimana yg terdapat dalam hadist “Kebersihan itu setengah dari pada iman”. Apalagi Istiqlal yg konon merupakan mesjid terbesar di seluruh asia tenggara, pastilah keberadaannya sering menjadi sorotan dunia. Sangatlah disayangkan kemegahannya harus dinodai dengan hal2 sepele namun berbicara banyak yaitu yg bersumber pada kebersihan. Kalau kebersihan tempat ibadat kita saja kita lalai bagaimana pula kita membersihkan diri dari hal2 yg tidak diridhoi Allah ? “Subhanallah…”

***
Belum genap jam sepuluh tapi suasana di istiqlal sudah mulai ramai. Secara keseluruhan bagian mesjid tempat belangsungnya tausiyah ini dibagi dua, sebagian buat jemaat wanita dan sebagian lagi untuk jemaat pria. Meskipun begitu sekitar 5 saf didepan jemaat wanita diisi oleh jemaat pria. Setelah cukup puas menempati saf sepuluh, Evie memulai sholat tahyatul masjid dua rakaat. Ini bukan kunjungannya yg pertama kesini, tapi entah kenapa dia selalu kagum akan kemegahan istiqlal, sepertinya habis persedian kata2 pujian untuk mengungkapkan keindahannya. Kubah yg menjulang tinggi seakan menampung semua udara sehingga membuat siapa saja didalamnya merasakan kesejukan. Semilir angin berhembus seakan ada kipas angin ukuran big jumbo berputar2 tanpa henti.
Pengunjung semakin ramai menempati saf2 yg tersedia. Sepanjang mata memandang tampak jilbab beraneka ragam menghiasi kepala jemaat muslimahnya. Macam-macam aja modelnya, sebagian ibu-ibu lebih memilih gaya ala Inneke Koesherawati, sementara para ABG kelihatan manis dengan gaya yg sederhana dimana jilbabnya menjuntai menutupi kepala sampai dadanya tapi ada juga yang memilih cara yg lebih praktis dengan memakai songkok yg lebih mirip topi dari rajutan.
Masih sekitar 2 jam lagi waktu sholat dzuhur akhirnya ia memutuskan untuk mengisi waktu membaca Al Qur’an sejenak, dimulai dengan “Auzubillah….”

*****
Belum ada tanda2 akan kehadiran Kartini padahal sebentar lagi sholat dzuhur tiba. Seorang panitia tampil dan mengajak membaca surat-surat pendek sebelum sholat. Diawali dengan surat Al Balad, Asy Syams, Al Lail, Ad Duha dan Alam Nasrah. Selanjutnya bersama-sama kami melantunkan zikir, tasbih dan tahmid. Bersamaan dgn azan dzuhur nokia Evie ikut2an berdering menandakan sms masuk. Hanya sebaris pesan singkat “Vi, lu dimana ? Gue baru masuk nih ....!”. lagi2 Evie menelan ludah, satu2nya hal yg bisa dilakukannya. Setengah putus asa dia menoleh kebelakang. Saf2 yg tadinya kosong sudah dipenuhi jemaat yg sudah bersiap2 sholat. Jilbab2 sudah tergantikan dengan mukena2 putih, penampilan yg nyaris sama membuat wajah2 dibaliknya mirip satu sama lainnya. Rasanya mustahil mencari sosok Kartini diantara mereka sementara sholat akan dimulai hanya dalam hitungan tak lebih dari 5 menit lagi. Dzuhur siang itu pun dimulai dengan “Allahu Akbar…”

****

Puncak acara akhirya dimulai, ba’da sholat dzuhur para jamaah langsung berdesak-desakan maju kedepan demi mendapatkan tempat sedekat mungkin dgn mimbar dimana tausiyah akan berlangsung. Kemunculan Aa’ Gim langsung disambut dengan gumaman dari para jamaah. Malah ada beberapa jamaah yg iseng dengan melambaikan tangannya. Seperti biasa Aa’ Gim membalasnya dengan senyuman tapi itu membuat gumaman semakin ramai semuanya kelihatan senang layaknya menyambut selebriti yang sangat dinanti-nantikan kehadirannya.
Tausiyah yang mengambil tema HIKMAH DI BALIK FITNAH itu sangat dinikmati oleh para jamaah. Kepiawaian Aa’ Gim dalam bertausiyah pastilah tidak diragukan lagi terlebih dengan kelakar-kelakar yang kerap ada sehingga menjadikan tausiyah itu lebih berwarna. Sayangnya disaat-saat tausiyah berlangsung harus ada jeda waktu untuk berhenti sejenak. Maklum acara ini disiarkan langsung oleh salah satu televisi swasta jadi dalam waktu berkala memberikan kesempatan pada pihak sponsor untuk mempropagandakan produknya. Kesempatan ini dimanfaatkan Aa’ Gim lebih dekat dengan para jamaah. Dia selalu bertanya. “Gimana ibu-ibu…. kira-kira ada manfaatnya tidak apa yang saya sampaikan tadi ?” Subhanallah, seorang ustadz sekaliber Aa’ Gim masih begitu rendah diri.
Sebelum ashar tausiyah itu pun berakhir dengan doa yang dipimpin oleh Aa’ Gim sendiri. Sama seperti tausiyahnya dalam doa-nyapun Aa’ Gim selalu memakai kata-kata yang begitu menyentuh membuat siapa saja yang mendengarnya suka terharu. Kali inipun Evie gak mampu menahan rasa haru sehingga tak terasa air mata sudah beranak sungai di kedua pipinya. Isakan tangis menahan haru terdengar disana-sini. Acara hari inipun ditutup dengan pengucapan dua kalimah sahadat yang langsung dipimpin oleh Aa’ Gim kepada para mualaf yang kali ini berjumlah delapan orang. Mudah-mudahan mereka menjadi muslimin dan muslimat sejati, batin Evie disaat dia menyaksikan moment yang sakral itu. Pelan Aa’ Gim memimpin, “Asy-hadu anlaa ilaaha illalaah wa asy-hadu anna muhammadan rasullullah...”

****

Akhirnya pertemuan Evie dan Kartini pun terjadi. Beda dengan rencana semula untuk kali ini mereka cukup puas bertemu setelah tausiyah berakhir. Pertemuan singkat itupun berakhir setelah sama-sama berjanji untuk berjumpa lagi di bulan berikutnya. “Insya Allah...”.

Monday, May 09, 2005

Nyanyian Rindu

Pabila rindu datang menghadang
Hanya hadirmu yang kuundang
Walau hanya sekelebat bayang
Tiada lelah tuk kukenang

Indahnya rindu merepih syahdu
Seindah syair penguntai lagu
Meski hati sulit berkompromi
Namun tak jemu diri ini menanti

Rindu tercipta dari cinta
Yang memberi nafas dalam asmara
Yang memberi makna dalam dua jiwa
Yang memberi warna dalam tanya
Bilakah waktu untuk bersua
 

Makasih Udah Mampir.....N Ditunggu Kunjungan Berikutnya Ya.....!